Saturday, 23 November 2013

Antara Kepemimpinan dan (just) Pemimpin



“Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela.”
(George R. Terry 2006)

Yuk, kita kaji bahasan klasik ini (:

Kepemimpinan merupakan bahasan klasik yang ga pernah habis untuk dikaji. Banyak rahasia kepemimpinan yang dikemukakan para penulis di berbagai media. Yaaahh.. Walaupun sebenarnya rahasia kepemimpinan bukanlah rahasia yang praktis untuk sekedar dituliskan, karenanya meskipun banyak yang mengetahui rahasia itu, saya berani jamin hanya sebagian dari bagian terkecil dari kita yang berhasil menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya pemimpin. Rahasia ini dikemukakan dalam tulisan bukan hanya untuk perenungan dan perencanaan, lalu mentok pada dampak peningkatan semangat individual pembacanya, tapi juga untuk dieksekusi. Banyak yang sangat puas begitu mengetahui rahasia ini, tapi lupa untuk segera eksekusi.

Let me explain it simply what I’m thinking about both leadership and leader. Bismillah..

Kepemimpinan. Pemimpin. Kepemimpinan dan pemimpin, adakah yang berbeda diantara keduanya? Coba jelaskan dalam pikiranmu sendiri tentang dua kata itu. Uraikan dalam suatu kalimat. Sudah? Coba ulangi lagi. Saya khawatir, jangan-jangan kita pun ga tau apa itu kepemimpinan dan siapa itu pemimpin? Hehe

Coba masukkan kata “pemimpin” dan kata “kepemimpinan” dalam Google, maka akan muncul 7.630.000 yang memuat tentang kepemimpinan dan 10.000.000 yang memuat tentang pemimpin. Begitupun kita akan menemukan hanya ada 292.000.000 yang memuat tentang leadership, namun ada 555.000.000 yang memuat tentang leader. See?? Dari sini bisa saya simpulkan lebih sedikit orang-orang yang memahami tentang kepemimpinan dibandingkan orang-orang yang memahami pemimpin. Lebih sedikit orang yang mampu membahas tentang kepemimpinan dibandingkan dengan bahasan mengenai pemimpin. Mungkin termasuk sebagian besar yang sedang membaca tulisan ini juga, hehe.. Atau jangan-jangan diantara kita ada yang masih mensejajarkan pemaknaan pemimpin dan kepemimpinan? Saya yakin pasti ya. Banyak yang menjelaskan kepemimpinan dengan kata-kata pemimpin di dalamnya, begitupun sebaliknya. Ya yaa.. standar.

Yang saya tahu, inti dari kepemimpinan bisa kita angkat dari definisi yang dikemukakan oleh George R. Terry di atas yang diambil dari dalam bukunya “Principle of Management” halaman 495. Sebelum melanjutkan membaca, saya tantang teman-teman untuk coba menggaris bawahi 2 fraksi kata utama yang paling penting dari 16 kata yang ada. Sudah?? Kalau sudah silahkan simpan di dalam pikiranmu. Dua frasa ini yang akan menggambarkan sejauh mana pemahaman kita mengenai kepemimpinan.

Saya akan angkat dua fraksi kata juga: “mempengaruhi orang” dan “sukarela”. Apa alasan saya mengangkat dua fraksi kata ini? Karena ketika hanya membaca dua fraksi kata ini, pemaknaannya akan sama dengan apa yang dimaksudkan dalam divinisi di atas. Itulah kunci dari kepemimpinan. Kedua kunci ini ga bisa dipisahkan. Dan inilah yang membuat kepemimpinan akan berbeda dengan pemimpin. Hahaa.. keningnya ga usah berkerut gitu dong.

Seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain tapi ga bisa menciptakan sifat sukarela pada orang yang dipengaruhinya, maka ia sebenarnya hanya seorang pemimpin. Begitu pula ketika seseorang bekerja kepada “atasannya” secara sukarela, namun bukanlah “atasannya” yang mempengaruhi untuk bekerja, maka “atasannya” itu hanya seorang pemimpin. Sedangkan syarat kepemimpinan adalah meliputi dua poin ini. Maka bisa disimpulkan bahwa orang yang memiliki jiwa kepemimpinan sudah pasti seorang pemimpin, sementara pemimpin belum tentu orang yang memiliki jiwa kepemimpinan. Masih ada yang bingung? Ok, saya jelaskan lagi secara sederhana.

Saya ingin membagi pemimpin itu menjadi dua jenis, yaitu pemimpin secara posisi dan pemimpin secara fungsi. Pertama, pemimpin secara posisi. Jenis pemimpin ini adalah pemimpin yang ada dalam posisi seorang pemimpin, ini adalah orang yang melalui jalur formal secara normal untuk bisa memimpin. Standar. Dan sudah akan sangat biasa dan wajar jika orang ini dipatuhi oleh yang lainnya. Lalu yang kedua, pemimpin secara fungsi. Inilah the real of leader! Dimanapun posisi yang dipegang oleh orang ini, bahkan sebagai level terbawah dalam posisi suatu struktur, ia mampu mempengaruhi orang lain untuk sukarela bekerjasama dengannya. Orang ini tidak lahir secara formal, tapi lahir secara natural. Lahir dari tengah-tengah orang yang secara sukarela mengakuinya. Mungkin kita tidak jarang menemukan di suatu divisi atau departemen seorang staff yang lebih didengar dan dipercaya oleh yang lainnya dibandingkan dengan Kepala Divisi atau Kepala Departemennya sendiri, right?

Maka.. Kesimpulannya adalah:
                                                Kepemimpinan = Pemimpin secara fungsi
                                                    Pemimpin = Pemimpin secara posisi

Karenanya, pemimpin seharusnya bukanlah orang yang memaksakan kepatuhan dan ketundukan pada dirinya, tapi orang yang melahirkan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Kepercayaan yang sehat tidak dilahirkan dari alasan ketsiqohan total jundi kepada qiyadahnya, itu taqlid buta namanya. Kepercayaan lahir dari seorang qiyadah karena ia memang pantas untuk dipercaya. Tanpa ta’limat pun semua jundi akan mengikuti arahannya dan memegang perkataannya. Jangan menyalah artikan ta’limat yang berarti bahwa semua jundi harus menuruti arahan tanpa pemahaman. Non sense. Kecuali disaat mendesak, mungkin.

Pesan kepada setiap orang yang akan menempati posisi pemimpin atau qiyadah, kepercayaan itu bukan paksaan atas alasan ketsiqohan, tapi kepercayaan itu diciptakan lalu lahir dan berkembang diantara jundi-jundimu. Maka tugasmu bukanlah mempertanyakan mengapa saya yang menempati posisi ini, tapi sejauh manakah posisi itu pantas untuk berada di atas pundakmu. Amanah itu memang suatu musibah, tapi juga merupakan berkah. Bukanlah memberontak dan mengasihani diri akan amanah yang berat, itu hal yang menyia-nyiakan waktu dan pikiranmu, tapi mulailah bergerak dan lakukan semampumu, melebihi apa yang jundimu berikan dalam kerja-kerja bersama. Milikilah jiwa kepemimpinan lalu duduklah diantara jajaran pemimpin, dan pastikan kita mampu memimpin para pemimpin itu, ketika kita bisa pastikan bahwa kita memperjuangkan kebaikan.

Wallahua'lam..


“Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela.”
(George R. Terry 2006)

Yuk, kita kaji bahasan klasik ini (:

Kepemimpinan merupakan bahasan klasik yang ga pernah habis untuk dikaji. Banyak rahasia kepemimpinan yang dikemukakan para penulis di berbagai media. Yaaahh.. Walaupun sebenarnya rahasia kepemimpinan bukanlah rahasia yang praktis untuk sekedar dituliskan, karenanya meskipun banyak yang mengetahui rahasia itu, saya berani jamin hanya sebagian dari bagian terkecil dari kita yang berhasil menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya pemimpin. Rahasia ini dikemukakan dalam tulisan bukan hanya untuk perenungan dan perencanaan, lalu mentok pada dampak peningkatan semangat individual pembacanya, tapi juga untuk dieksekusi. Banyak yang sangat puas begitu mengetahui rahasia ini, tapi lupa untuk segera eksekusi.

Let me explain it simply what I’m thinking about both leadership and leader. Bismillah..

Kepemimpinan. Pemimpin. Kepemimpinan dan pemimpin, adakah yang berbeda diantara keduanya? Coba jelaskan dalam pikiranmu sendiri tentang dua kata itu. Uraikan dalam suatu kalimat. Sudah? Coba ulangi lagi. Saya khawatir, jangan-jangan kita pun ga tau apa itu kepemimpinan dan siapa itu pemimpin? Hehe

Coba masukkan kata “pemimpin” dan kata “kepemimpinan” dalam Google, maka akan muncul 7.630.000 yang memuat tentang kepemimpinan dan 10.000.000 yang memuat tentang pemimpin. Begitupun kita akan menemukan hanya ada 292.000.000 yang memuat tentang leadership, namun ada 555.000.000 yang memuat tentang leader. See?? Dari sini bisa saya simpulkan lebih sedikit orang-orang yang memahami tentang kepemimpinan dibandingkan orang-orang yang memahami pemimpin. Lebih sedikit orang yang mampu membahas tentang kepemimpinan dibandingkan dengan bahasan mengenai pemimpin. Mungkin termasuk sebagian besar yang sedang membaca tulisan ini juga, hehe.. Atau jangan-jangan diantara kita ada yang masih mensejajarkan pemaknaan pemimpin dan kepemimpinan? Saya yakin pasti ya. Banyak yang menjelaskan kepemimpinan dengan kata-kata pemimpin di dalamnya, begitupun sebaliknya. Ya yaa.. standar.

Yang saya tahu, inti dari kepemimpinan bisa kita angkat dari definisi yang dikemukakan oleh George R. Terry di atas yang diambil dari dalam bukunya “Principle of Management” halaman 495. Sebelum melanjutkan membaca, saya tantang teman-teman untuk coba menggaris bawahi 2 fraksi kata utama yang paling penting dari 16 kata yang ada. Sudah?? Kalau sudah silahkan simpan di dalam pikiranmu. Dua frasa ini yang akan menggambarkan sejauh mana pemahaman kita mengenai kepemimpinan.

Saya akan angkat dua fraksi kata juga: “mempengaruhi orang” dan “sukarela”. Apa alasan saya mengangkat dua fraksi kata ini? Karena ketika hanya membaca dua fraksi kata ini, pemaknaannya akan sama dengan apa yang dimaksudkan dalam divinisi di atas. Itulah kunci dari kepemimpinan. Kedua kunci ini ga bisa dipisahkan. Dan inilah yang membuat kepemimpinan akan berbeda dengan pemimpin. Hahaa.. keningnya ga usah berkerut gitu dong.

Seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain tapi ga bisa menciptakan sifat sukarela pada orang yang dipengaruhinya, maka ia sebenarnya hanya seorang pemimpin. Begitu pula ketika seseorang bekerja kepada “atasannya” secara sukarela, namun bukanlah “atasannya” yang mempengaruhi untuk bekerja, maka “atasannya” itu hanya seorang pemimpin. Sedangkan syarat kepemimpinan adalah meliputi dua poin ini. Maka bisa disimpulkan bahwa orang yang memiliki jiwa kepemimpinan sudah pasti seorang pemimpin, sementara pemimpin belum tentu orang yang memiliki jiwa kepemimpinan. Masih ada yang bingung? Ok, saya jelaskan lagi secara sederhana.

Saya ingin membagi pemimpin itu menjadi dua jenis, yaitu pemimpin secara posisi dan pemimpin secara fungsi. Pertama, pemimpin secara posisi. Jenis pemimpin ini adalah pemimpin yang ada dalam posisi seorang pemimpin, ini adalah orang yang melalui jalur formal secara normal untuk bisa memimpin. Standar. Dan sudah akan sangat biasa dan wajar jika orang ini dipatuhi oleh yang lainnya. Lalu yang kedua, pemimpin secara fungsi. Inilah the real of leader! Dimanapun posisi yang dipegang oleh orang ini, bahkan sebagai level terbawah dalam posisi suatu struktur, ia mampu mempengaruhi orang lain untuk sukarela bekerjasama dengannya. Orang ini tidak lahir secara formal, tapi lahir secara natural. Lahir dari tengah-tengah orang yang secara sukarela mengakuinya. Mungkin kita tidak jarang menemukan di suatu divisi atau departemen seorang staff yang lebih didengar dan dipercaya oleh yang lainnya dibandingkan dengan Kepala Divisi atau Kepala Departemennya sendiri, right?

Maka.. Kesimpulannya adalah:
                                                Kepemimpinan = Pemimpin secara fungsi
                                                    Pemimpin = Pemimpin secara posisi

Karenanya, pemimpin seharusnya bukanlah orang yang memaksakan kepatuhan dan ketundukan pada dirinya, tapi orang yang melahirkan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Kepercayaan yang sehat tidak dilahirkan dari alasan ketsiqohan total jundi kepada qiyadahnya, itu taqlid buta namanya. Kepercayaan lahir dari seorang qiyadah karena ia memang pantas untuk dipercaya. Tanpa ta’limat pun semua jundi akan mengikuti arahannya dan memegang perkataannya. Jangan menyalah artikan ta’limat yang berarti bahwa semua jundi harus menuruti arahan tanpa pemahaman. Non sense. Kecuali disaat mendesak, mungkin.

Pesan kepada setiap orang yang akan menempati posisi pemimpin atau qiyadah, kepercayaan itu bukan paksaan atas alasan ketsiqohan, tapi kepercayaan itu diciptakan lalu lahir dan berkembang diantara jundi-jundimu. Maka tugasmu bukanlah mempertanyakan mengapa saya yang menempati posisi ini, tapi sejauh manakah posisi itu pantas untuk berada di atas pundakmu. Amanah itu memang suatu musibah, tapi juga merupakan berkah. Bukanlah memberontak dan mengasihani diri akan amanah yang berat, itu hal yang menyia-nyiakan waktu dan pikiranmu, tapi mulailah bergerak dan lakukan semampumu, melebihi apa yang jundimu berikan dalam kerja-kerja bersama. Milikilah jiwa kepemimpinan lalu duduklah diantara jajaran pemimpin, dan pastikan kita mampu memimpin para pemimpin itu, ketika kita bisa pastikan bahwa kita memperjuangkan kebaikan.

Wallahua'lam..


“Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela.”
(George R. Terry 2006)

Yuk, kita kaji bahasan klasik ini (:

Kepemimpinan merupakan bahasan klasik yang ga pernah habis untuk dikaji. Banyak rahasia kepemimpinan yang dikemukakan para penulis di berbagai media. Yaaahh.. Walaupun sebenarnya rahasia kepemimpinan bukanlah rahasia yang praktis untuk sekedar dituliskan, karenanya meskipun banyak yang mengetahui rahasia itu, saya berani jamin hanya sebagian dari bagian terkecil dari kita yang berhasil menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya pemimpin. Rahasia ini dikemukakan dalam tulisan bukan hanya untuk perenungan dan perencanaan, lalu mentok pada dampak peningkatan semangat individual pembacanya, tapi juga untuk dieksekusi. Banyak yang sangat puas begitu mengetahui rahasia ini, tapi lupa untuk segera eksekusi.

Let me explain it simply what I’m thinking about both leadership and leader. Bismillah..

Kepemimpinan. Pemimpin. Kepemimpinan dan pemimpin, adakah yang berbeda diantara keduanya? Coba jelaskan dalam pikiranmu sendiri tentang dua kata itu. Uraikan dalam suatu kalimat. Sudah? Coba ulangi lagi. Saya khawatir, jangan-jangan kita pun ga tau apa itu kepemimpinan dan siapa itu pemimpin? Hehe

Coba masukkan kata “pemimpin” dan kata “kepemimpinan” dalam Google, maka akan muncul 7.630.000 yang memuat tentang kepemimpinan dan 10.000.000 yang memuat tentang pemimpin. Begitupun kita akan menemukan hanya ada 292.000.000 yang memuat tentang leadership, namun ada 555.000.000 yang memuat tentang leader. See?? Dari sini bisa saya simpulkan lebih sedikit orang-orang yang memahami tentang kepemimpinan dibandingkan orang-orang yang memahami pemimpin. Lebih sedikit orang yang mampu membahas tentang kepemimpinan dibandingkan dengan bahasan mengenai pemimpin. Mungkin termasuk sebagian besar yang sedang membaca tulisan ini juga, hehe.. Atau jangan-jangan diantara kita ada yang masih mensejajarkan pemaknaan pemimpin dan kepemimpinan? Saya yakin pasti ya. Banyak yang menjelaskan kepemimpinan dengan kata-kata pemimpin di dalamnya, begitupun sebaliknya. Ya yaa.. standar.

Yang saya tahu, inti dari kepemimpinan bisa kita angkat dari definisi yang dikemukakan oleh George R. Terry di atas yang diambil dari dalam bukunya “Principle of Management” halaman 495. Sebelum melanjutkan membaca, saya tantang teman-teman untuk coba menggaris bawahi 2 fraksi kata utama yang paling penting dari 16 kata yang ada. Sudah?? Kalau sudah silahkan simpan di dalam pikiranmu. Dua frasa ini yang akan menggambarkan sejauh mana pemahaman kita mengenai kepemimpinan.

Saya akan angkat dua fraksi kata juga: “mempengaruhi orang” dan “sukarela”. Apa alasan saya mengangkat dua fraksi kata ini? Karena ketika hanya membaca dua fraksi kata ini, pemaknaannya akan sama dengan apa yang dimaksudkan dalam divinisi di atas. Itulah kunci dari kepemimpinan. Kedua kunci ini ga bisa dipisahkan. Dan inilah yang membuat kepemimpinan akan berbeda dengan pemimpin. Hahaa.. keningnya ga usah berkerut gitu dong.

Seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain tapi ga bisa menciptakan sifat sukarela pada orang yang dipengaruhinya, maka ia sebenarnya hanya seorang pemimpin. Begitu pula ketika seseorang bekerja kepada “atasannya” secara sukarela, namun bukanlah “atasannya” yang mempengaruhi untuk bekerja, maka “atasannya” itu hanya seorang pemimpin. Sedangkan syarat kepemimpinan adalah meliputi dua poin ini. Maka bisa disimpulkan bahwa orang yang memiliki jiwa kepemimpinan sudah pasti seorang pemimpin, sementara pemimpin belum tentu orang yang memiliki jiwa kepemimpinan. Masih ada yang bingung? Ok, saya jelaskan lagi secara sederhana.

Saya ingin membagi pemimpin itu menjadi dua jenis, yaitu pemimpin secara posisi dan pemimpin secara fungsi. Pertama, pemimpin secara posisi. Jenis pemimpin ini adalah pemimpin yang ada dalam posisi seorang pemimpin, ini adalah orang yang melalui jalur formal secara normal untuk bisa memimpin. Standar. Dan sudah akan sangat biasa dan wajar jika orang ini dipatuhi oleh yang lainnya. Lalu yang kedua, pemimpin secara fungsi. Inilah the real of leader! Dimanapun posisi yang dipegang oleh orang ini, bahkan sebagai level terbawah dalam posisi suatu struktur, ia mampu mempengaruhi orang lain untuk sukarela bekerjasama dengannya. Orang ini tidak lahir secara formal, tapi lahir secara natural. Lahir dari tengah-tengah orang yang secara sukarela mengakuinya. Mungkin kita tidak jarang menemukan di suatu divisi atau departemen seorang staff yang lebih didengar dan dipercaya oleh yang lainnya dibandingkan dengan Kepala Divisi atau Kepala Departemennya sendiri, right?

Maka.. Kesimpulannya adalah:
                                                Kepemimpinan = Pemimpin secara fungsi
                                                    Pemimpin = Pemimpin secara posisi

Karenanya, pemimpin seharusnya bukanlah orang yang memaksakan kepatuhan dan ketundukan pada dirinya, tapi orang yang melahirkan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Kepercayaan yang sehat tidak dilahirkan dari alasan ketsiqohan total jundi kepada qiyadahnya, itu taqlid buta namanya. Kepercayaan lahir dari seorang qiyadah karena ia memang pantas untuk dipercaya. Tanpa ta’limat pun semua jundi akan mengikuti arahannya dan memegang perkataannya. Jangan menyalah artikan ta’limat yang berarti bahwa semua jundi harus menuruti arahan tanpa pemahaman. Non sense. Kecuali disaat mendesak, mungkin.

Pesan kepada setiap orang yang akan menempati posisi pemimpin atau qiyadah, kepercayaan itu bukan paksaan atas alasan ketsiqohan, tapi kepercayaan itu diciptakan lalu lahir dan berkembang diantara jundi-jundimu. Maka tugasmu bukanlah mempertanyakan mengapa saya yang menempati posisi ini, tapi sejauh manakah posisi itu pantas untuk berada di atas pundakmu. Amanah itu memang suatu musibah, tapi juga merupakan berkah. Bukanlah memberontak dan mengasihani diri akan amanah yang berat, itu hal yang menyia-nyiakan waktu dan pikiranmu, tapi mulailah bergerak dan lakukan semampumu, melebihi apa yang jundimu berikan dalam kerja-kerja bersama. Milikilah jiwa kepemimpinan lalu duduklah diantara jajaran pemimpin, dan pastikan kita mampu memimpin para pemimpin itu, ketika kita bisa pastikan bahwa kita memperjuangkan kebaikan.

Wallahua'lam..

Saturday, 6 April 2013

Antara Cinta dan Kesempurnaan

           Tulisan ini bercerita tentang aku, kau, dan kita, yang akan menyusuri makna mencintai dan sebuah kesempurnaan. Dalam hidup dan dalam memahami, aku mengenal dua orang:
orang yang mencari kesempurnaan untuk ia cintai... dan...
orang yang mencintai lalu menyempurnakannya...

            Sering aku bercerita dan berjalan bersama mereka, melihat suka duka yang mereka lalui sebagai konsekuensi prinsip mereka sendiri. Tak ada yang salah namun tak bisa membenarkan, tentang prinsip hidup seseorang. 
Di awal bertemu, tak semua sepaham untuk segera mencintai dakwah ini. Begitupun masih banyak yang berusaha memahami cintanya, seberapa besarkah kecintaanku terhadap dakwah ini? Masih sibuk menata hati dan memperbaiki diri.
Lalu aku akan berkata dengan lantang,”Cinta KAMI hanya akan berkontribusi dalam jalan dakwah ini! Jika jalan ini penuh onak dan duri, maka langkah KAMI hanya akan berdarah di jalan-Mu, dan hati KAMI hanya akan ikhlas terluka untuk mempertahankan cinta kepada-Mu!”

Ya, kami..
Merangkul seluruh jama’ah ini dalam satu kata, kami..
Seharusnya memang kami..

Maka jika memang semua ada dalam eratnya rangkulan itu, lalu aku bertanya-tanya tentang beberapa saudaraku yang lepas dari rangkulan itu. Menurutmu, apa yang terjadi? Apa yang kau rasakan? Sakit, ya memang sakit.. Ketika berusaha merangkul seseorang erat, sementara ia berusaha melepaskannya. Maka ketika itu terlepas, kau akan khawatir kemana ia akan pergi dan apakah ia akan baik-baik saja?



Ingin mengajaknya kembali, untuk bersama duduk dan saling memahami, lalu bercerita bahwa kita sama, tujuan kita pun sama, hanya saja mungkin kita yang belum seirama.

Lalu ketika aku bertanya tentang apa yang mengecewakanmu? Maka banyak alasan yang kau minta untuk ku mengerti. Begitu banyak hal yang ternyata mengecewakanmu.. beberapa kali kau juga menilai dirimu yang masih jauh dari kesempurnaan.. Dan selalu aku jawab bahwa lingkaran ini tidak menginginkan seorang yang sempurna, kita hanya orang yang sibuk memperbaiki, begitupun aku, ukhti..
Juga banyak dari kealfaan kami yang mengecewakanmu.. Afwan. Jika menurutmu lingkaran ini belum sempurna, karena memang kita belum selesai dengan urusan ini. Maka pahamilah, ketika lingkaran ini telah sempurna, lalu apa lagi yang akan kita sempurnakan di dalamnya. Ketika lingkaran ini telah sempurna, maka apakah kerja-kerja kita masih akan dinantikan?

Ukhti.. Akhi.. Siapakah dirimu?
orang yang mencari kesempurnaan untuk kau cintai... ataukah...
orang yang mencintai lalu menyempurnakannya...
         
         Ketika kau adalah orang yang mencari kesempurnaan untuk kau cintai, maka hingga disuatu batas waktu, kau akan selalu kecewa atas kecintaanmu. Karena hampir tak ada yang bisa kau rangkul sebagai suatu kesempurnaan dalam mencintai, kecuali kecintaan terhadap Allah. Maka kau bisa pastikan cintamu tak akan kecewa ketika kau sandarkan padaNya. Lalu aku akan bisa melepasmu, meskipun perih, tak mengapa. Selama sandaran itu sama, maka bisa dipastikan bahwa kau dan aku pasti akan selalu dekat.

           Jika bukan orang itu, maka kau adalah orang yang mencintai lalu menyempurnakannya. Terkadang kau tak akan tahu alasan mengapa kau mencintai sesuatu. Tapi satu yang kutahu tentang hatimu, hanya ada ketulusan. Kau adalah orang yang akan menyempurnakan apa yang telah kau cintai, terlepas dari seberapa jauh ia dari kesempurnaan. Kau yang ikhlas memperbaiki, membimbing dan menasihati, sehingga aku akan selalu tersenyum mendengar kemarahanmu karena kelalaianku, karena aku tahu, kau ingin aku untuk menjadi lebih baik, lebih dewasa, lebih sehat, lebih rajin, dan ternyata begitu banyak hal yang kau tahu tentang sisi baik dan kekuranganku. Dan aku tahu, kau lah yang berusaha membuatku lebih sempurna. Maka aku yakin, kau akan tetap bertahan dalam jalan ini, bersamaku, karena aku dan kau tahu bahwa jalan ini juga belum sempurna.





Sebelum kita berlari, kau akan memegang erat tanganku dan kau bisikkan di telingaku:
“Sebelum engkau bergelar syuhada tetaplah BERTAHAN dan bersiap siagalah!”
Ya, aku akan memegang nasihatmu...
Maka jangan pernah kau bosan menasihatiku.

Bisiknya lagi.. “Prajurit perang sejati tidak akan pernah meninggalkan pasukannya di tengah peperangan, karena ia hanya memiliki 2 pilihan dalam hidupnya: bergelar syuhada atau ikut meneriakkan kemenangan! Jadi, selesaikanlah tugasmu..” ia menepuk pundakku.

Aku pun tersenyum padanya..


.....
Dan sabarkanlah dirimu untuk selalu bersama dengan orang-orang yang menyeru kepada Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya. Dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena mengharap perhiasan kehidupan dunia.. (QS.18:28)
..... 


Oleh: Aghnia An’umillah
(teruntuk saudara/i ku yang telah dan akan beranjak, juga untuk yang tetap bertahan)