Saturday, 23 November 2013

Antara Kepemimpinan dan (just) Pemimpin



“Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela.”
(George R. Terry 2006)

Yuk, kita kaji bahasan klasik ini (:

Kepemimpinan merupakan bahasan klasik yang ga pernah habis untuk dikaji. Banyak rahasia kepemimpinan yang dikemukakan para penulis di berbagai media. Yaaahh.. Walaupun sebenarnya rahasia kepemimpinan bukanlah rahasia yang praktis untuk sekedar dituliskan, karenanya meskipun banyak yang mengetahui rahasia itu, saya berani jamin hanya sebagian dari bagian terkecil dari kita yang berhasil menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya pemimpin. Rahasia ini dikemukakan dalam tulisan bukan hanya untuk perenungan dan perencanaan, lalu mentok pada dampak peningkatan semangat individual pembacanya, tapi juga untuk dieksekusi. Banyak yang sangat puas begitu mengetahui rahasia ini, tapi lupa untuk segera eksekusi.

Let me explain it simply what I’m thinking about both leadership and leader. Bismillah..

Kepemimpinan. Pemimpin. Kepemimpinan dan pemimpin, adakah yang berbeda diantara keduanya? Coba jelaskan dalam pikiranmu sendiri tentang dua kata itu. Uraikan dalam suatu kalimat. Sudah? Coba ulangi lagi. Saya khawatir, jangan-jangan kita pun ga tau apa itu kepemimpinan dan siapa itu pemimpin? Hehe

Coba masukkan kata “pemimpin” dan kata “kepemimpinan” dalam Google, maka akan muncul 7.630.000 yang memuat tentang kepemimpinan dan 10.000.000 yang memuat tentang pemimpin. Begitupun kita akan menemukan hanya ada 292.000.000 yang memuat tentang leadership, namun ada 555.000.000 yang memuat tentang leader. See?? Dari sini bisa saya simpulkan lebih sedikit orang-orang yang memahami tentang kepemimpinan dibandingkan orang-orang yang memahami pemimpin. Lebih sedikit orang yang mampu membahas tentang kepemimpinan dibandingkan dengan bahasan mengenai pemimpin. Mungkin termasuk sebagian besar yang sedang membaca tulisan ini juga, hehe.. Atau jangan-jangan diantara kita ada yang masih mensejajarkan pemaknaan pemimpin dan kepemimpinan? Saya yakin pasti ya. Banyak yang menjelaskan kepemimpinan dengan kata-kata pemimpin di dalamnya, begitupun sebaliknya. Ya yaa.. standar.

Yang saya tahu, inti dari kepemimpinan bisa kita angkat dari definisi yang dikemukakan oleh George R. Terry di atas yang diambil dari dalam bukunya “Principle of Management” halaman 495. Sebelum melanjutkan membaca, saya tantang teman-teman untuk coba menggaris bawahi 2 fraksi kata utama yang paling penting dari 16 kata yang ada. Sudah?? Kalau sudah silahkan simpan di dalam pikiranmu. Dua frasa ini yang akan menggambarkan sejauh mana pemahaman kita mengenai kepemimpinan.

Saya akan angkat dua fraksi kata juga: “mempengaruhi orang” dan “sukarela”. Apa alasan saya mengangkat dua fraksi kata ini? Karena ketika hanya membaca dua fraksi kata ini, pemaknaannya akan sama dengan apa yang dimaksudkan dalam divinisi di atas. Itulah kunci dari kepemimpinan. Kedua kunci ini ga bisa dipisahkan. Dan inilah yang membuat kepemimpinan akan berbeda dengan pemimpin. Hahaa.. keningnya ga usah berkerut gitu dong.

Seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain tapi ga bisa menciptakan sifat sukarela pada orang yang dipengaruhinya, maka ia sebenarnya hanya seorang pemimpin. Begitu pula ketika seseorang bekerja kepada “atasannya” secara sukarela, namun bukanlah “atasannya” yang mempengaruhi untuk bekerja, maka “atasannya” itu hanya seorang pemimpin. Sedangkan syarat kepemimpinan adalah meliputi dua poin ini. Maka bisa disimpulkan bahwa orang yang memiliki jiwa kepemimpinan sudah pasti seorang pemimpin, sementara pemimpin belum tentu orang yang memiliki jiwa kepemimpinan. Masih ada yang bingung? Ok, saya jelaskan lagi secara sederhana.

Saya ingin membagi pemimpin itu menjadi dua jenis, yaitu pemimpin secara posisi dan pemimpin secara fungsi. Pertama, pemimpin secara posisi. Jenis pemimpin ini adalah pemimpin yang ada dalam posisi seorang pemimpin, ini adalah orang yang melalui jalur formal secara normal untuk bisa memimpin. Standar. Dan sudah akan sangat biasa dan wajar jika orang ini dipatuhi oleh yang lainnya. Lalu yang kedua, pemimpin secara fungsi. Inilah the real of leader! Dimanapun posisi yang dipegang oleh orang ini, bahkan sebagai level terbawah dalam posisi suatu struktur, ia mampu mempengaruhi orang lain untuk sukarela bekerjasama dengannya. Orang ini tidak lahir secara formal, tapi lahir secara natural. Lahir dari tengah-tengah orang yang secara sukarela mengakuinya. Mungkin kita tidak jarang menemukan di suatu divisi atau departemen seorang staff yang lebih didengar dan dipercaya oleh yang lainnya dibandingkan dengan Kepala Divisi atau Kepala Departemennya sendiri, right?

Maka.. Kesimpulannya adalah:
                                                Kepemimpinan = Pemimpin secara fungsi
                                                    Pemimpin = Pemimpin secara posisi

Karenanya, pemimpin seharusnya bukanlah orang yang memaksakan kepatuhan dan ketundukan pada dirinya, tapi orang yang melahirkan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Kepercayaan yang sehat tidak dilahirkan dari alasan ketsiqohan total jundi kepada qiyadahnya, itu taqlid buta namanya. Kepercayaan lahir dari seorang qiyadah karena ia memang pantas untuk dipercaya. Tanpa ta’limat pun semua jundi akan mengikuti arahannya dan memegang perkataannya. Jangan menyalah artikan ta’limat yang berarti bahwa semua jundi harus menuruti arahan tanpa pemahaman. Non sense. Kecuali disaat mendesak, mungkin.

Pesan kepada setiap orang yang akan menempati posisi pemimpin atau qiyadah, kepercayaan itu bukan paksaan atas alasan ketsiqohan, tapi kepercayaan itu diciptakan lalu lahir dan berkembang diantara jundi-jundimu. Maka tugasmu bukanlah mempertanyakan mengapa saya yang menempati posisi ini, tapi sejauh manakah posisi itu pantas untuk berada di atas pundakmu. Amanah itu memang suatu musibah, tapi juga merupakan berkah. Bukanlah memberontak dan mengasihani diri akan amanah yang berat, itu hal yang menyia-nyiakan waktu dan pikiranmu, tapi mulailah bergerak dan lakukan semampumu, melebihi apa yang jundimu berikan dalam kerja-kerja bersama. Milikilah jiwa kepemimpinan lalu duduklah diantara jajaran pemimpin, dan pastikan kita mampu memimpin para pemimpin itu, ketika kita bisa pastikan bahwa kita memperjuangkan kebaikan.

Wallahua'lam..

No comments:

Post a Comment